Nikah Sirri part 2


Gb. @internet ( Gak ada untungnya nikah tanpa bukti tertulis di zaman modern yang banyak timbul kejahatan  & kebohongan)
Gb. @internet ( Gak ada untungnya nikah tanpa bukti tertulis di zaman modern yang banyak timbul kejahatan & kebohongan)

Setelah menuliskan tentang nikah sirri beberapa hari yang lalu cukup banyak pro dan kontra yang terjadi. Belum lagi dari pengamatan penulis sendiri secara offlines dan opini-opini dari masyarakat dari berbagai media.

Dapat disimpulkan bahwasannya nikah sirri itu adalah nikah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi karena sirri itu sendiri berasal dari kata “sirr” yang artinya sembunyi. Dan sudah jelas bahwa nikah siri atau nikah sembunyi tidak dibenarkan dalam Agama Islam. Namun nikah sirri bisa diganti dengan Nikah Secara Agama (tidak tercatat dan terdaftar dalam catatan negara RI). Orang yang melakukan nikah secara agama bisa dianggap syah asal sudah sesuai syarat dan rukun daripada nikah itu sendiri seperti ada calon pengantin, penghulu, wali, saksi, ijab qabul. Nikah seperti ini dilaksanakan banyak yang beralasan karena faktor biaya terlalu tinggi untuk mengurus administrasi ke Kantor Urusan Agama. Belum waktunya yang super sibuk dan daripada dituduh berzina atau tidak mau pacaran yang nantinya kuatir akan tergoda setan, maka nikah secara agama jadi pilihan paling bijak. Yang penting syah di mata Allah kan sudah bagus, begitu banyak komentar dari orang-orang pada umumnya.

Sebenarnya jangan terlalu dipermasalahkan soal niakah secara agama apalagi dipidanakan. Bila mau membuat peraturan yang jelas untuk nikah secara agama (saya tidak mau menyebut nikah sirri karena kurang tepat) dan juga nikah mut’ah (nikah kontrak). Bila nikah mut’ah yang dibuat peraturan memang lebih tepat karena sangat merugikan terutama pihak perempuan. Bahkan nikah mut’ah dicap hanya nikah main-main. Padahal nikah sendiri itu sesuatu yang sakral dan slah satu ibadah kita di jalan Allah SWT melalui pernikahan. Bahkan Nabi pun menyatakan bahwasannya yang menjadi umatnya untuk dapat menikah dan bila belum mampu menikah untuk berpuasa agar terjauh dari godaan-godaan setan. Nikah itu adalah sunah Rasul.
Nah, bila nikah mut’ah atau nikah kontrak berarti nikah hanya bersifat sementara. Bila telah habis masanya sudah dianggap tidak sah dan harus bercerai. Dan bila masih saling mencintai, saling membutuhkan bisa diperpanjang atau nikah yang benar-benar baik secara agama dan negara. Lalu bagaimana dengan nasib anak bila nikah mut’ah ini tidak ada peraturan yang jelas? Sungguh malang nasib para korban nikah mut’ah (sementara) ini. Tentu banyak sekali perceraian terjadi. Dan banyak anak yang harus rela orang tuanya berpisah. Tidak mendapatkan kasih sayang seutuhnya. Tidak perlu diperdebatkan untuk nikah mut’ah ini karena benar-benar nikah hanya main-main. Untuk itu diharamkan saja nikah mut’ah ini. Dan perzinahan yang dilegalkan mohon untuk dicabut pula peraturannya dan membuat peraturan baru yakni tidak ada kawasan protistusi dan akan dipidanakan bagi yang terbukti melakukan aksi ini.

Sedang untuk nikah secara agama, kenapa mesti diributkan? Dipidanakan bagi yang ketahuan melakukan nikah secara agama (tidak tercatat dalam negara tapi tercatat dalam hukum Allah). Padahal banyak yang menikah karena bener-bener mengikuti sunah Rasul, ingin beribadah dengan menjauhkan diri dari zina.
Semoga dengan banyak pro dan kontra serta opini-opini dari masyarakat baik melalui media televisi, media koran ataupun di internet yang banyak bermuncullan penulis-penulsi berbakat untuk mengungkapkan tulisannya melalui situs pribadinya atau jejaring situs pertemanan semacam facebook ini untuk lebih diperhatikan pemerintah dan MUI. Tidak ada kata pidana bagi yang telah melaksanakan nikah secara agama dengan alasan tertentu yang kuat untuk tidak dipidanakan.
Nikah secara agama mungkin hanya bisa dibuktikan dengan menghadirkan penghulu yang saat itu menikahkannya, adanya wali dan saksi dan bisa juga dokumen seperti photo. Dan bila mungkin nikah secara agama walau tidak / belum tercatat di Kantor Urusan Agama tetap punya bukti cukup kuat untuk ditulis di selembar kertas rangkap lebih dari satu lembar yang ditandatangani sang pengantin pria dan wanita, wali, saksi dan penghulu. Jadi, bila ada salah satu pihak entah itu penghulu, wali atau saksi ada yang telah meninggal tetap terbukti telah melakukan nikah secara agama karena dilakukan dengan alasan sesuai dengan ungkapan pengantin dan krunya. Tidak ada masalah kan? Mereka pelaku nikah secara agama itu syah bila dilakukan lillahi ta’ala. Tidak ada istilah MBA alias Married By Accident. Kecuali mereka yang telah melakan kecurangan yang tetap saja diproses.

Untuk pihak birokrasi sendiri seharusnya tidak perlu terlalu dipersulit pernikahan itu. Lihatlah, Wahai Pemerintah Negeriku tercinta…. betapa banyak orang yang hidupnya serba kekurangan. Jangankan untuk biaya menikah dan pendidikan, lha wong untuk makan saja harus Senin – Kamis. Nah, ini lagi menikah sungguh ribet alurnya, belum lagi ditarik biaya yang terlalu tinggi. Belum banyaknya musibah yang akhir-akhir ini melanda negeri Indonesia tercinta. Korban tsunami Aceh, korban Lapindo yang belum juga terselesaikan dengan baik, korban gempa bumi dimana-mana, korban PHK karena perusahaan tempat bekerja dilanda krisis / merugi. Bila perlu urusan biaya nikah hal yang sangat wajar dan bagi pihak yang terkait dengan urusan pernikahan Anda semua sudah mendapatkan rezeki berlimpah dari Allah bila menikahkan dua anak manusia. Tariklah yang semestinya. Bahkan bagi yang benar-benar tidak ada biaya untuk menikah secara agama dan negara tidak ada punggutan. Adakanlah JPS (Jaminan Pemeliharaan Sosial).

Bila kuatir ada penyimpangan dari pelaku calon pengantin semisal seorang laki-laki yang ingin menikah lebih dari satu bolehlah dibuat peraturan yang ketat karean banyak juga penyimpangan nikah secara agama karena alasan berpoligami dan tidak ingin menceraikan istri tuanya. Namun jangan dibebankan pada biaya pernikahan dong.
Asal status jelas-jelas jejaka/perawan, duda / janda dengan dibuktikan sendiri oleh pihak dari KUA (yang bertugas untuk mengurusi pernikahan dengan terjun langsung). Ini digunakan untuk membuktikan pernikahan tetap berjalan guna menghindari status pernikahan yang tidak tercatat. Bila status duda/janda benar-benar dibuktikan surat keterangan dari ketua warga setempat atau dari peradilan bahwasannay pelaku calon pengantin telah berstatus duda/janda baik karena faktor perceraian atau kematian. Untuk yang ingin berpoligami harus benar-benar pihak KUA untuk menemui calon yang akan dimadu apakah akan siap untuk dimadu atau tidak. Bila siap ya harus ada surat ijinnya. Dan bila tidak ada ijin dari pasangan yang mau dimadu, serta benar-benar tidak mau nah barulah kasus semacam ini dilanjutkan kepada pihak berwajib atau hanya dibmusyawarahkan kedua keluarga dan ada dari pihak KUA sebagai saksi akan adanya poligami.Pernikahan poligami itu tidak dilarang asal sesuai ketentuan seperti kehidupan yang cukup untuk bisa berbuat adil. Juga alasan kuat yang bisa diterima untuk melalukan poligami. Tidak dari segi materi saja tetapi waktu dan kasih sayang juga bisa jadi bahan pertimbangan.

Dan bila nikah secara agama ini diperlakukan dengan adil dan bijaksana, tidak merugikan banyak pihak terlebih kaum wanita so pasti banyak yang mendukungnya.
Buatlah kebijakan dan peraturan yang jelas, tidak menyudutkan salah satu pihak.

Penulis,

Untuk semua usia tua muda, pria wanita, remaja, dewasa, ibu rumah tangga, karyawan(ti)….. Yang mau belajar nulis dan ngeblog bareng-bareng namun belum sempat bikin blog sendiri ayo gabung bersama kami.

Grup FB : http://www.facebook.com/#TravelWriting

Website :#TravelWriting

Whats App Grup “Writer” +628123368731

BBM Grup “Writer” 2AC53D74

Novy ER

 

 

 

3 thoughts on “Nikah Sirri part 2

  1. bener, ada seorg kawan buaik yang bpknya adalah penghulu. dan beliau (ayah dr seorang kawan) bila ada yg hendak menikah secara agama namun tdk sanggup bayar, ya dinikahkan aja kemudian esok harinya baru dech diurus untuk dicatat dalam agenda yang ada di KUA oleh sang bapak kawan. Nah , kalau gitu nikahsecara agama tdk wajib dilegalkan bukan serta syah secara agama dan negara. Seorg penghulu yang bijaksana.

    Suka

  2. tidak ada aturan mempersulit, hanya yg terpenting adalah kejelasan data, bila tidak punya biaya bisa mengajukan bebas bea dengan surat keterangan tidak mampu dari kelurahan dan kecamatan. santai dibuku nikah tidak ada tulisan tidak bayar!!!

    terkadang yg nampak dipersulit adalah karena status perwaliannya bermasalah, atau ada data yg meragukan. karena kaitannya dengan syariat maka kua memang harus hati2

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s