Puasa Itu Sedekah


Banyak orang menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, bulan yang penuh ampunan, rahmad dan bebas dari api neraka dengan ritual-ritual khusus sesuai dengan adat istiadat daerah masing-masing. Seperti ziarah ke makam kerabat. Memang tidak ada salahnya kita bersilahturahmi dengan para keluarga dan handai taulan yang telah meninggalkan dunia mendahuli kita asal tidak ada yang namanya berbau sirik. Ziarah makam untuk mendoakan di depan makam dan membersihkan rumah keabadiannya. Dan lebih baiknya kalau kita berziarah dengan tujuan lebih untuk mengingatkan kita pada kematian. Sebab sabda Nabi “Cukuplah kematian sebagai pelajaran.” Budaya ‘apem’ seperti yang sudah menjadi tradisi di seputar Jawa Timur. Apakah wajib dan ada budaya ini menyambut bulan suci di zaman Rasulullah? Rasulullah tidak melarang asalkan tidak mengandung sirik. Namun, jangan dijadikan suatu kewajiban hanya karena ingin mengikuti tradisi yang sudah mendarah daging. Sekarang bukan hanya apem yang digunakan sebagai acara bancakan menyambut bulan suci Ramadhan, tapi sepertinya lebih pada pamer bancakan dengan jajan yang lebih mewah. Dan bagi yang tidak mempunyai uang berlebih terpaksa harus hutang sana sini hanya untuk mengikuti tradisi tersebut.

Begitu tiba hari-hari puasa mengapa kita disibukkan dengan makanaan yang lebih istimewa daripada hari-hari biasanya? Padahal arti puasa yang sesungguhnya selain kita mengendalikan hawa nafsu lahir dan batin juga menahan laapar dan dahaga yang jelas-jelas tujuannya untuk mengingatkan kita pada orang-orang yang kehiduannya jauh di bawah kita. Kita dalam berpuasa hanya tidak makan dan tidak dari adzan Subuh hingga adzan Maghrib. Bagi yang orang-orang yang lemah yang kehidupannya sungguh menderita. Makan hanya sehari itupun berlaku Senin Kamis saja. Kita lebih dituntut untuk itu. Tapi dalam menjalankan puasa mengapa kita seperti melakukan puasa balas dendam. Setelah lapar dan haus kita makan dengan kenyang sekali bahkan dengan makanan super istimewa. Apa artinya puasa kalau kita tidak bisa merasakan penderitaan kaum dhuafa yang makannya Senin Kamis dan ala kadarnya. Untuk itulah marilah kita tingkatkan rasa sosial kita dengan mencoba berpuasa layaknya kita orang yang kekurangan makanan. Namun kita bersyukur, walaupun kekurangan makan, kita masih bisa merasakan enaknya makan di saat sahur dan buka tiap hari. Bayangkan dengan yang telah penulis sebutkan di atas. Makan hanya Senin Kamis, ala kadarnya lagi. Marilah kita tingkatkan amal jariyah kita dengan menyumbangkan ke orang-orang dhuafa, panti-panti asuhan yang ada di sekeliling kita, yayasan sosial yang berbadan hukum dan terpercaya untuk diserahkan kepada yang membutuhkan. Agar puasa kita memililki hikmah tersendiri di balik arti puasa yang sesungguhnya. Hanya sebulan kita berpuasa, bagaimana yang bertahun-tahun hidupnya hanya makan dua kali dalam seminggu? Masa kita bisa melaksanakan perintah Allah yang sungguh ringan bila kita lakukan dengan ikhlas baik kita siap atau tidak dalam menjalankan puasa Ramadhan.

Ya, kita harus siap menjalankan perintah agama yang jelas-jelas ada di Al Qur’an surah Al Baqarah (2) ayat 183-187 yang artinya :

183. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,

184. (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan[114], Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu Mengetahui.

185. (beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

186. Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

187. Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah Pakaian bagimu, dan kamupun adalah Pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, Karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang Telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf[115] dalam mesjid. Itulah larangan Allah, Maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.

Marilah kita tata hati kita dalam melaksanakan puasa Ramadhan. Ingin puasa dengan ikhlas, ingin menambah amalan kita dengan mengikuti majlis dzikir, majlis ta’lim, sholat terawih berjamah di masjid atau musholla, mengikuti pesantren kilat, belajar Al Qur’an serta memaknai terjemahannya.

Marilah kita berpuasa benar-benar karena Allah, bukan hanya gengsi mengikuti orang-orang yang sedang melakukan puasa. Mari kita berbagi kasih dengan turut merasakan penderitaan layaknya orang yang kurang makan agar di hati kita terbersit rasa sosial yang cukup tinggi dan tidak mudah mengumbar hawa nafsu.

Salam Ukhuwah,

Novy ER

 

 

Untuk semua usia tua muda, pria wanita, remaja, dewasa, ibu rumah tangga, karyawan(ti)….. Yang mau belajar nulis dan ngeblog bareng-bareng namun belum sempat bikin blog sendiri ayo gabung bersama kami.

Grup FB : http://www.facebook.com/#TravelWriting

Website :#TravelWriting

Whats App Grup “Writer” +628123368731

BBM Grup “Writer” 2AC53D74

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s